Alasan aku berhenti menulis tentangmu.

Alasan aku berhenti menulis tentangmu.

Segala sesuatu yang ditulis akan abadi, segala sesuatu yang diingat akan terlupakan, dan segala sesuatu yang diletakkan ke dalam hati akan berbekas.

Dahulu kau punya tempat yang sangat sempurna. di setiap sudut tulisan, di setiap sela ingatan bahkan hati ini penuh sampai tumpah itu karena berisi semua tentangmu. Aku takut. Aku takut dalam satu detik saja tak memikirkan bahkan berpaling darimu. Bagaimana mungkin dunia ini kujalani tanpa adanya kamu (?)

Sampai-sampai, kuciptakan puisi tentangmu. Ku buat sebagai caraku untuk mengingatmu dengan cara yang romantis. Ku kumpulkan kata-kata unik, kurangkai sedemikian rupa agar setiap yang membaca akan menerka-nerka. Apa gerangan yang perempuan ini maksud?

Mereka tidak tahu, mereka tidak paham. Dari semua kalimat yang berbelit, intinya adalah kamu. Tak ada yang lain, hanya kamu saja. Semua kulakukan agar kau tampak lebih indah. Terbalut rangkaian metafora. Bersinar-sinar maknanya bak cahaya surga. Merdu sekali kalimatnya.

Kau tahu bahwa suatu saat nanti kita akan menua. Begitu pula dengan ingatan. Ia akan sirna dengan sendirinya. Tanpa kita sadari, kita kehilangan kemampuan untuk menahan seluruh ingatan. Satu persatu akan terlupakan. Semua bahagia, senyum, duka, tawa atau apa saja akan habis tanpa tersisa. Kecuali bekas-bekasnya, akan selalu terasa di dalam hati.

Kehidupan memiliki waktu nya sendiri, begitu pula ingatan. Ku abadikan kau agar aku bisa selalu hidup denganmu dalam bentuk tulisan. Kalimat-kalimatnya ku buat terasa sampai ke relung hati paling dalam. Berbekas. Sepertinya tidak akan pernah hilang.

Tapi kau tahu? kata-kata itu kini kehilangan makna. Tak ada lagi artinya setiap tulisan, muntahan riuh dari isi kepala. Bunga-bunga perasaan yang tumpah. Setiap kalimat tentang dirimu selalu kalah dan kehilangan makna.

Mereka semua kalah oleh tatapan mu di pagi hari. Oleh tulus mu di sepanjang hari-hariku. Oleh seluruh kehadiranmu yang sudah memenuhi kehidupan ku. Impian bertemu dengan harapan. Manis sekali, bukan?

Pikirku, untuk apalagi aku mengingat?

Untuk apa aku mengingat sesuatu yang kini selalu ada dihadapanku ?

Untuk apalagi aku menulis puisi agar bisa hidup bersamamu? nyatanya kini hidup bersamamu sudah menjadi kenyataan. Senyum itu bukan lagi dalam bentuk kata-kata aneh. Bahagia itu juga bukan lagi rangkaian kalimat yang dibuat-buat. Kini sepenuhnya nyata dan hidup. Tulisan-tulisan itu kalah oleh kehadiranmu. Kini tulisan itu aku tinggalkan sebab kau telah keluar setelah lama bersembunyi dari balik kalimat-kalimat rumitnya. Nyata dihadapanku.

Bukankah sudah ku bilang, bagaimana mungkin ku jalani dunia ini tanpa adanya kamu?

Ku berhenti menulis tentang mu. Kujalani hidup bahagia bersama mu.

( Tulisan Fiksii )

 

Komentar

Postingan Populer